Home / BANGKA BELITUNG / Cerita Sofan Sebagai Pasukan Trikora dan Dwikora

Cerita Sofan Sebagai Pasukan Trikora dan Dwikora

Oleh : Dinda Agus Tiantie.

PANGKALPINANG, LASPELA – Sofan Efendi merupakan Salah satu veteran tertua Bangka Belitung yang lahir pada 1939 silam, telah banyak mengabdi pada negara, dari banyaknya tugas yang diemban, ia pernah menjadi pasukan Trikora dan Dwikora pada masa pasca kemerdekaan RI.

Dalam ceritanya melawan penjajah, setiap kesulitan dimaknainya sebagai suatu yang berharga, pada pasca kemerdekaan RI waktu itu dirinya diberikan tugas untuk menjadi pasukan Trikora yang berperan untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.

“Pada masa itu 4 tahun setelah Indonesia Merdeka, Belanda yang berjanji akan menyerahkan Irian Jaya kepada Indonesia tidak mau menepati janjinya, untuk itu Presiden Soekarno mengirim kami sebagai pasukan Trikora untuk mengambil kembali Irian Jaya, pada tahun 1949,” terangnya. Senin (18/11/2019).

Trikora memang ditugaskan untuk bertempur melawan Belanda. “Jadi itu memang benar-benar bertempur merebut kembali Irian Barat, Presiden sudah marah karena Belanda mengingkari janjinya, sementara itu saya 1 tahun bertugas disana,” tuturnya.

Sementara itu perjuangan Indonesia berhasil mengambil kembali Irian Barat pada tahun 1964 ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Setelah selesai bertugas menjadi pasukan Trikora, Sofan kembali ditugaskan menjadi pasukan Dwikora yang bertugas merebut sengketa dari Malaysia, dan mencegah pembentukan fedarasi Malaysia diantara perbatasan Kalimantan.

“Disaat itu kami pasukan Dwikora ditugaskan kesana, mungkin sekitar tahun 1964 atau 1965,” tuturnya.

Adanya Dwikora pun merupakan kemarahan dari Presiden Soekarno karena digantungnya salah satu pasukan. “Itu pula Dwikora ada, Presiden waktu itu sangat marah dengan digantungnya prajurit kita, sehingga dengan adanya Dwikora mereka takut kepada kita,” jelasnya.

Dijelaskannya dulu Indonesia sangat ditakuti negara luar, Indonesia pada masa itu mempunyai pesawat KIK 21 yaitu pesawat tempur.

“Mereka agak takut sama Indonesia, namun sekarang kebalikannya,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda dapat lebih mencintai Indonesia, mencintai tanpa pamrih, dan terus berjiwa Nasionalisme yang kuat. (dnd)

About wahyulaspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: