Home / BANGKA BELITUNG / Merajut Asa Di Lahan Bekas Tambang Timah

Merajut Asa Di Lahan Bekas Tambang Timah

Oleh: Andini Dwi Hasanah

TANJUNGPANDAN, LASPELA– Ketua HKm Juru Seberang Bersatu Marwandi mengatakan pihaknya mulai merehabilitasi lokasi bekas tambang menjadi taman wisata mangrove pada 2017 dan berakhir pada 2018.

Awalnya kawasan Belitung Mangrove Park (BMP) merupakan lahan bekas tambang yang telah ditambang PT Timah sekitar 1948 sampai 1981 menggunakan kapal keruk.

“Semenjak 2013 kami atas prakarsa penyuluh dan polhut mengajukan izin mengelola kawasan hutan areal bekas tambang. Izin keluar dan mendapatkan kegiatan kemah budaya nasional yang didukung pemerintah daerah serta program ICCTF dan program lain,” kata Marwandi, Minggu(13/10/2019)

Setelah resmi dibuka, BMP telah dikunjungi ribuan pengunjung. Ia menyebut, pada 2018 kunjungan wisatawan ke destinasi tersebut mencapai 74.620 otang. Selama 2019 per 30 September kunjungan ada sekitar 62.620 wisatawan.

Destinasi baru seluas 50 ha yang terletak di Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini cukup unik. Bukan saja menawarkan keindahan alam pantai yang dipadu dengan hutan mangrove, tetapi juga menawarkan sebuah harapan baru bagi masyarakat sekitar.

Sejumlah fasilitas lain seperti menara pengamatan, kapal susur sungai, kano, tambak, teras mancing, pusat informasi wisata, rumah edukasi, rumah makan, rumah singgah hingga dermaga sunset berada diarea tersebut.

“Ketika laut tercemar maka akan mempengaruhi hasil tangkapan ikan dan lahan tambang tentunya sulit untuk dijadikan lahan produktif, dengan adanya Belitung Mangrove Park masyarakat di sekitar Desa Juru Seberang dilibatkan dalam rehabilitasi mangrove dan hutan pantai hingga mengelola dan mengembangkan ekowisata,” katanya.

Selain itu, pada 2019 ini ditambahkan atraksi berupa kegiatan mancing kepiting rajungan yang telah dibudidayakan saat kunjungan asesor UNESCO Global Geopark pada akhir Juni lalu.

“Mengembangkan perekonomian masyarakat tak bisa dilakukan tanpa dukungan semua pihak. Dukungan bukan hanya saat ini tapi juga kerjasama di masa yang akan datang,” harap Marwandi.

Kelompok HKM juga berharap, kedepan kawasan ini bisa menjadi mangrove center, selain pendidikan juga ada upaya pengembangan dan penelitian.

“Kita siap jadi rumah untuk generasi muda yang punya kemampuan baik dibidang ekonomi, seni dan buaya untuk bersama-sama bergabung untuk mengelola kawasan ini,” imbuhnya (din)

About wahyulaspela

x
Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish