Oleh: Nopranda Putra
TOBOALI, LASPELA – Bangunan monumen Gerhana Matahari Total (GMT) menjadi sorotan Panitia Khusus (Pansus) pertanggung jawaban APBD, DPRD kabupaten Bangka Selatan pada rapat sidang paripurna Pengambilan keputusan Raperda pertangung jawaban APBD tahun 2018, Selasa (9/7).
Pasalnya, bangunan GMT yang berdiri tegak di kawasan wisata pantai Tanjung Kerasak, Kecamatan Tukak Sadai terlihat sudah mulai rusak. Bahkan keramik dan anak tangga serta bangunan sudah mengalami keretakan yang cukup parah.
Diketahui, bangunan GMT belum sampai satu tahun itu menelan APBD sebesar Rp. 1.353.120.000.
Jubir pansus Dian Sersanawati, mengatakan, salah satu penyebab pemerintah daerah kabupaten Bangka Selatan, memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) belum lama ini, salah satunya dipicu adanya temuan bangunan fisik yang kekurangan volume.
“Faktanya kami menemukan banyak sekali kualitas program bangunan fisik yang kualitasnya sangat jauh dari kata sempurna sebagai contoh bangunan gedung monumen gmt yang sudah retak diusianya yang baru mencapai satu tahun,” ujar Dian.
Selain monumen GMT, pansus juga mengkritisi kerap terjadinya rotasi pejabat. Bahkan sampai saat ini, masih banyak jabatan kepala OPD yang dijabat Plt. Pansus berkesimpulan, banyaknya OPD yang di jabat Plt ink, diakibatkan lemahnya manajerial birokrasi di kubu executive.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (DPKO) Basel, Haris Setiawan saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (10/7), membenarkan bahwa bangunan GMT itu mengalami kerusakan struktural.
Akan tetapi, ia berdalih bahwa bangunan GMT itu masih tahap pemeliharaan kontraktor sampai jangka waktu yang ditentukan.
“Iya, tapi itu (Bangunan GMT) masih tahap pemeliharaan kontraktor CV. Prima Mandiri Utama sampai 180 hari,” kata Haris yang juga sebagai Pejabat Pengguna Anggaran (PPA) bangunan GMT tersebut. (Pra)