Home / HEADLINE / Puasa dan Kejujuran
Dr Azizah MA, Ketua umum Pimpinan Pusat Muslimat Al Washliyah dan Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Puasa dan Kejujuran

Oleh: Dr. Azizah MA

  • Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Al Washliyah
  • Ketua Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI)
  • Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Assalamualaikum Warahmatullhohi Wabarkatuh.

AGAMA ISLAM adalah agama yang membawa kedamaian dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menjadi seorang muslim seharusnya menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Jika kita merasa belum menemukan kedamaian dan kebahagiaan, dapat dipastikan karena kita belum melaksanakan ajaran Islam dengan benar.

Salah satu ajaran Islam adalah tentang kejujuran. Jujur adalah suatu sikap keterusterangan baik dalam bentuk lisan (ucapan) maupun dalam bentuk perbuatan.

Jika dikaitkan dengan puasa, maka puasa dapat membentuk perilaku seseorang menjadi jujur. Karena seseorang yang sedang berpuasa, dia tahu bahwa Allah SWT sedang memperhatikan apa yang dia kerjakan.

Jika orang yang berpuasa, makan dan minum di siang hari dengan cara sembunyi-sembunyi, dia merasa tidak ada orang yang melihatnya, tetapi sesungguhnya pada hakekatnya Allah melihat apa yang diperbuatnya.

Dalam hadits Nabi SAW dikatakan; “… Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minuman karena kepatuhannya kepada-Ku (Allah), maka puasa itu untuk-Ku (Allah) dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahalanya …”. (HR. Al-Bukhari).

Di sisi lain, orang berpuasa mampu menjaga dirinya dari perkataan dusta, mengingkari janji dan berkhianat (tidak amanah), sebagaimana terdapat pada tanda-tanda orang munafik.

Rasulullah SAW bersabda:” Di antara tanda-tanda munafik itu ada tiga ; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkarinya, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (dalam riwayat lainnya terdapat tambahan kalimat): “Meskipun ia melaksanakan puasa, shalat, dan menganggap dirinya seorang muslim.” (HR. Muslim).

Dalam hadits Qudsi (hadits yang redaksinya dari Nabi, tetapi maknanya dari Allah) dikatakan, dari Abi Hurairah RA katanya, Rasulullah SAW. bersabda: “Allah SWT berfirman: “Ada tiga macam orang yang Aku akan menuntut mereka di hari kiamat kelak; (1). seseorang yang berjanji kepada-Ku, kemudian ia mengkhianatinya.
(2). seseorang yang menjual orang merdeka dan memakan uang hasil penjualannya, dan (3). seseorang yang mempekerjakan orang lain dan menuntut hasil kerja yang baik, tetapi ia tidak membayar gajinya.” (HR. Al-Bukhari).

Saudaraku…

Dengan memperhatikan gambaran hadits-hadits di atas, cukuplah bagi kita menjadi patokan bahwa kejujuran sangat diperlukan dalam menjalani hidup. Hidup di dunia ini hanya sementara, sedangkan hidup di akhirat adalah hidup yang kekal.

Janganlah hidup yang sebentar ini, kita korbankan hanya untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak jujur. Karena semua yang di dapat pasti akan lenyap dan kelak segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Orang yang jujur dalam hidupnya dia akan mendapatkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan Allah SWT mengangkat derajatnya, mencapai derajat kemuliaan.

Semoga kita ditempatkan dalam golongan orang-orang yang jujur. Aamiin.

Nasrum Minallah Wa Fathun Qorib
Wabasyiril mukminin
Wassalamualaikum Warahmatullohi Wabarkatuh

Sumber: Pos Kota

About Stefanus Laspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: