Home / BANGKA BELITUNG / Kebhinekaan Harus Digenggam
Ketua KNPI Bangka Belitung Bambang Patijaya saat memberikan materinya pada acara “Sarasehan Bhinneka Tunggal Ika” di Tanjung Pesona, Sungai Lihat, Bangka, Babel, Rabu (24/5). foto: Fb

Kebhinekaan Harus Digenggam

SUNGAILIAT, LASPELA– Kebhinekaan merupakan perjuangan yang dilakukan sejak Mpu Tantular hingga disepakati menjadi semboyan negara. Karena merupakan perjuangan maka Bhineka Tunggal Ika harus dirawat secara bersama-sama.

Ajakan merawat kebhinekaan itu disampaikan Ketua KNPI Kepulauan Babel, Bambang Patijaya dalam “Sarasehan Bhineka Tunggal Ika” di Tanjung Pesona, Sungai Lihat, Bangka, Babel, Rabu (24/5) dengan subtema kebangsaan “Menjaga Pancasila, Merajut Keragaman, dan Merawat Integrasi Menuju Nasionalisme, tanpa Batas”.

Karena kebhinekaan itu sebuah perjuangan maka harus kita genggam kuat, seperti pita Bhinneka Tunggal Ika dalam cengkeraman burung Garuda.

“Cengkeraman itu simbol bahwa Bhinneka Tunggal Ika sebuah hasil perjuangan, maka harus dipegang erat kuat-kuat. Berbeda dengan semboyan Amerika E Pluribus Unum (dari banyak menjadi satu) yang dikalungkan di leher dan bukan dicengkeram. Itu melambangkan sebagai anugerah, bukan perjuangan seperti Bhinneka Tunggal Ika,” kata Bambang Patijaya.

Sehubungan dengan kegaduhan politik nasional yang muncul sebelum dan setelah pilkada DKI lalu sehingga memicu berbagai kericuhan di berbagai daerah, Bambang menegaskan, “Biarlah kegaduhan itu di DKI saja. Kegaduhan jangan sampai terjadi di Bangka, biar saja di luar,” katanya disambut tepuk tangan peserta sarasehan yang terdiri dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh politik, birokrat, pejabat, dan kalangan muda tersebut.

Warga Inklusif

Pembicara dari UBB Ibrahim mengkhawatirkan kondisi bangsa dari sisi persatuan dan kesatuan. Di tengah merebaknya eksklusivitas berbagai kelompok warga, Ibrahim mendesak membangun kewargaan yang inklusif.

“Warga inklusif adalah keterbukaan setiap orang yang bisa menerima sesamanya dari berbagai ragam latar belakang, bukan satu warna (homogen),” kata Dekan FISIP Universitas Bangka Belitung (Babel) itu.

Ibrahim menjelaskan, kewargaan yang eksklusif tak dapat ditawar lagi karena semakin banyak kelompok yang terus mengembangkan homogenitas. Mereka membangun kelompok eksklusif yang terdiri dari orangorang yang sepaham, sewarna, selatarbelakang, dan seagama.

“Kelompok lain yang berbeda pandangan dan idelogi tidak diterima serta dipaksa mengikuti karakter miliknya yang dianggap paling benar. Kelompok inklusif diperlukan untuk membendung paham homogenitas yang eksklusif,” tandas Ibrahim.

Dalam acara yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Lembaga Nasional Setiabudi Bekerja Sama dengan Kantor Kesbangpol Kabupaten Bangka ini, Ibrahim melihat gejala tersebut sebagai bentuk fenomena denizenship, yaitu menolak orang luar yang berbeda ideologi, agama, etnis, dan berbaga paham lain dengan kelompoknya.

Sementara salah satu peserta Bahar Buasan menilai kondisi bangsa sekarang memperlihatkan memudarnya nasionalisme. Maka dari itu dia setuju bahwa nasionalisme harus dipasarkan kembali secara masif. Hanya, dalam pemasaran perlu dilihat produk yang dijual dan cara menjual. Nasionalisme harus dikemas dengan cara baru agar laku di pasar.

Ibrahim menyarankan pemasaran Pancasila yang paling mudah lewat sekolah. Pancasila dikenalkan lagi secara intens. Hanya delivery-nya harus yang kreatif. Jangan seperti zaman Orde Baru yang membosankan.

Dirintelpam Polda Babel, Kombes Witnu Urip Laksana mengatakan melunturnya nasionalisme telah membuat memudarnya cinta Tanah Air. Rakyat tidak lagi menghargai budaya bangsa. Ini karena kurangnya teladan dan tidak meratanya kondisi sosial kemasyarakatan.

“Nasionalisme memudar secara masif. Itu terjadi hampir di setiap elemen seperti kaum muda, birokrat, legislatif, eksekutif, dan pejabat,” kata dia. (fiq/jak)

About Stefanus Laspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: