Home / BANGKA BELITUNG / Mercusuar Pulau Besar, Objek Wisata yang Indah Namun Diabaikan
Suasana di sekitar Mercusuar Pulau Besar (foto: Wins)

Mercusuar Pulau Besar, Objek Wisata yang Indah Namun Diabaikan

BATU BETUMPANG, LASPELA- Mercusuar Pulau Besar yang terletak di desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan (Basel), memiliki potensi wisata yang begitu menakjubkan namun masih diabaikan.

Mercusuar silang yang merupakan tanda jalur Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) tersebut ternyata telah dibangun pada masa Kerajaan Belanda ke III atau dikenal dengan William III pada tahun 1888 silam.

Mercusuar yang terletak di tengah pulau kecil yang terpisah dari bibir pantai ini memang punya keunikan tersendiri.

Disamping itu, adanya cerita legenda yang menjadi daya tarik wisatawan yakni adanya hamparan bebatuan besar yang berfungsi untuk menyeberang dari bibir pantai ke pulau mercusuar tersebut yang dibangun oleh pekerja romusha masa itu, serta terdapat sebuah sumur tua yang kondisi airnya tidak asin dan juga tidak tawar seperti air biasa umumnya, dan tidak kering meskipun pada musim kemarau.

Tidak Terawat

Namun sayangnya, meskipun menyimpan berbagai keunikan dan legenda, kondisi mercusuar Pulau Besar belum begitu terawat terutama pada akses jalan, fasilitas dan kebersihan pantainya sehingga membutuhkan sentuhan-sentuhan untuk memoles keindahan objek wisata tersebut agar menjadi destinasi wisata yang menarik.

Ruslan, SIP, Pjs. Kepala Desa Batu Betumpang kepada LASPELA menjelaskan, kondisi tersebut dikarenakan mercusuar tersebut pengelolaannya masih di bawah distrik Navigasi Tanjung Priok.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar pihak-pihak terkait dapat memperjuangkan mercusuar tersebut agar bisa dikelola oleh Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Desa setempat sehingga bisa dibenahi dan dijadikan destinasi wisata yang bisa memberikan income baik bagi Pemdes maupun bagi Pemkab

“Kondisi tersebut dikarenakan mercusuar tersebut pengelolaannya masih di bawah distrik Navigasi Tanjung Priok. Kami berharap agar pihak-pihak terkait dapat memperjuangkan mercusuar tersebut agar bisa dikelola Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Desa kami sehingga bisa dibenahi dan dijadikan destinasi wisata yang bisa memberikan income baik bagi Pemdes kani maupun bagi Pemkab,” ungkapnya, Jumat (17/2/2017).

Ruslan menegaskan kesiapan desanya untuk mengelola mercusuar tersebut asalkan sesuai regulasi yang jelas.

“Kami siap mengelola bila diminta. Tapi aturannya harus jelas sehingga tidak menyalahi aturan karena mercusuar tersebut masih membutuhkan sentuhan untuk menjadi sebuah objek wisata yang lebih menarik sehingga nantinya menjadi destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi,” katnya memungkasi.

Reporter: Wiwin Suseno
Editor     : Stefan H. Lopis

About Stefanus Laspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: