Home / NASIONAL / Arief Yahya: Wisata Bahari Harus Bangkit
Menpar Arief Yahya (foto/ist)

Arief Yahya: Wisata Bahari Harus Bangkit

*3/4 Wilayah Indonesia adalah Maritim

*80 Persen Wilayah Babel adalah Maritim

*Pesona Panorama dan Kekayaan Laut tak Tertandingi

* Kembangkan “coastal zone”, “sea zone” dan “underwater”

WISATA bahari Indonesia, khususnya Kepulauan Bangka Belitung harus bangkit karena negeri ini tiga perempat wilayahnya adalah maritim dengan kekayaan laut dan keindahan panorama yang tidak tertandingi.

Dari total luas wilayah Babel  81.725.14 km2, luas daratannya hanya 16.424.14 km2 atau 20.10 persen dari total wilayah. Selebihnya 65.301 km2 atau 79,90 persen dari total wilayah Babel adalah maritim.

Kebangkitan wisata bahari itu ditegaskan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya.  “Wisata bahari harus bangkit menjadi kekuatan Indonesia,” katanya di Jakarta, Minggu (26/6/2016).

Arief Yahya melakukan serangkaian terobosan untuk percepatan pembangunan wisata bahari dan membagi menjadi tiga bidang, yakni “coastal zone” atau wisata bentang pantai, “sea zone” atau wisata laut dan bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya, dan “underwater” melalui wisata bawah laut seperti diving (menyelam) dan snorkeling.

Salah satu bentuk aktivitas penjualan paket wisata bahari adalah dengan menggelar “sales mission diving” wisata bahari yang diadakan di Singapura pada 22 Juni lalu.

Misi penjualan itu bertujuan mempromosikan pariwisata Indonesia, termasuk Kepulauan Bangka Belitung, paket-paket wisata bahari di destinasi-destinasi dengan spot diving unggulan Indonesia, sekaligus upaya pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara tahun ini sebesar 12 juta orang.

Wisata selam di Indonesia, katanya, tumbuh dalam lima tahun belakangan ini.

Arief Yahya meyakinkan, masuk dalam kawasan “The Coral Triangle” dengan kekayaan bawah laut terindah dan terlengkap menjadikan Indonesia target para penyelam dunia maupun domestik.

Ia mengungkapkan, “Indonesia juga memiliki 55 destinasi diving dan lebih dari 1.500 lokasi menyelam, tersebar dari Aceh sampai Papua dan jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Filipina.”

Dunia,  kata Arief, juga mengakui Indonesia memiliki beberapa diving spot terbaik dunia, antara lain Belitung, Raja Ampat, Pulau Komodo, Derawan, Togean,Wakatobi, Gili Air, dan Bunaken.

Arief mengatakan Singapura bisa jadi pasar  potensial bagi promosi paket-paket diving di banyak spot itu. Bangka Belitung harus menangkap peluang tersebut, apalagi Babel dekat dengan Singapure, Malaysia dan Jakarta.

Mereka punya cukup minat terhadap model wisata ini, namun mereka tidak mempunyai pantai pasir putih dan laut sejernih Indonesia, sekaligus memperkenalkan destinasi diving Indonesia yang belum banyak dikenal di Singapura.

“Sales mission diving” mengikutsertakan 15 sellers (penjual) dari Indonesia. Mereka yang menjual paket diving di beberapa daerah seperti Aceh, Jakarta, Sulut, NTT, Papua, dan Papua Barat. Kepulauan Bangka Belitung belum terlibat sebagai sellers.

Arief Yahya mengatakan, para penjual jasa paket wisata bahari itu diberikan kesempatan untuk mempresentasikan produk wisata bawah laut unggulan mereka di hadapan 40 buyers (pembeli) dari asosiasi diving, komunitas penyelam, dan media Singapura.

Kegiatan itu berhasil menjual berbagai paket wisata bahari untuk kunjungan wisatawan Singapura ke Indonesia pada musim liburan dalam waktu dekat ini.

Misi penjualan paket wisata bahari yang diadakan di Singapura merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan sebelumnya di Bangkok, Thailand pada Mei lalu, dan akan berlanjut di Malaysia pada Juli dan di Filipina September mendatang.

 Sebelumnya, Indonesia gencar berpromosi lewat ajang pameran pariwisata internasional. Salah satu yang dipromosikan adalah destinasi wisata bahari nasional, khususnya zona bawah laut. Promosi ini antara lain dilakukan di Bangkok, Thailand, melalui pameran pariwisata selam, yaitu Thailand Dive Expo 2016, yang digelar pada 12-15 Mei di Queen Sirikit National Convention Center lalu.

Dari data pariwisata, sektor pariwisata Indonesia menyumbang devisa negara sebesar 11,2 miliar dollar AS pada 2015. Sejumlah 1,1 miliar dolar AS di antaranya merupakan kontribusi wisata bahari, dan sekitar 15 persen berasal dari zona bawah laut atau selam. (bbs/Ags)

About Stefanus Laspela

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: