Home / GETAR / Tuhan dan “Koper” Kosong | BANGKA BELITUNG

Tuhan dan “Koper” Kosong | BANGKA BELITUNG

Seorang manusia meninggal…

Ketika ia menyadarinya, ia melihat Tuhan mendekati dirinya dengan sambil memegang sebuah koper di tan­gan-Nya.

Berikut dialog antara TUHAN dan arwah manusia tersebut:

Tuhan: “Mari kita pergi.”

Arwah: “Begitu cepat? Tapi saya masih memiliki ban­yak rencana.”

Tuhan: “Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi.”

Arwah: “Apakah isi koper yang Engkau pegang itu?”

Tuhan: “Benda kamu.”

Arwah: “Benda saya? Maksudnya barang-barang saya? Seperti baju saya, uang saya, perhiasan saya?”

Tuhan: “Bukan, barang itu tak pernah menjadi milik­mu. Itu milik Dunia.”

Arwah: “Apakah itu ingatan dan kenangan saya?”

Tuhan: “Bukan, itu milik Waktu.”

Arwah: “Apakah itu bakat dan kesuksesan saya?”

Tuhan: “Bukan juga, itu milik Anugerah.”

Arwah: “Apakah itu istri dan anak-anak saya?”

Tuhan: “Tidak juga, itu milik hatimu.”

Arwah: “Kalau begitu, itu pasti tubuh saya.”

Tuhan: “Tidak, bukan… Tubuhmu milik Debu Tanah.”

Arwah: “Jika demikian isinya tentu jiwa saya.”

Tuhan: “Kamu salah besar nak, sebab jiwamu itu milik-KU.”

Tuhan lalu menyerahkan koper tersebut ke sang Arwah. Den­gan kebingungan dan dengan ketakutan sang Arwah membuka koper tersebut.

Dan ternyata isinya KOSONG…!!!

Dengan hati kecewa dan airmata berlinang sang Arwah ber­tanya pada Tuhan, “Maksud Tuhan, saya tak pernah memiliki apapun?!”

Tuhan menjawab: “Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tak pernah memiliki apapun…”

Arwah: “Lalu…, apa yg menjadi milikku, Tuhan…?!”

Tuhan: “WAKTU-mu! Saat-saat di waktu kamu HIDUP… it­ulah milikmu…!!!”

(Renungan Pilihan dari WA)

 

MENGISI waktu dalam kehidupan? St Agustinus dari Hippo (354-430 M) merupakan filsuf yang brilian dalam merefleksikan waktu secara filosofis dan teologis. Dalam karya agungnya The Confessions; Time and Eternity, ia mengkategorikan waktu berdimensi tiga: lampau, kini dan yang akan datang.
“Bagaimana mengenai kedua waktu ini yakni lampau dan akan datang; dalam aarti apa keduanya adalah pengada real; ketika yang lampau tidak lagi eksis dan yang akan datang belum juga mengada? Begitu juga dengan masa kini, jika itu tetap mengkini dan tidak pernah tergelincir menjadi lampau, maka dia tidak pernah menjadi waktu sama sekali; dia akan menjadi sebuah keabadian.” Tulis Agustinus.
Fisikawan atau filsuf mungkin menjawab; waktu adalah apa yang diukur oleh jam, atau waktu adalah sesuatu yang dapat membuat segala sesuatu memiliki urutan. Dalam dunia newtonian, waktu diperlakukan sebagai sesuatu yang eksternal dan absolut. Waktu newtonian dapat diandaikan sebagai container, dimana peristiwa terjadi dalam cara yang deterministik, secara linier dan independen dari pengamat.
Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, bahkan dituntut untuk mengisi seluruh ‘ashr (waktu) nya dengan berbagai amal dengan mempergunakan semua daya yang dimiliki.
Alquran bahkan memerintahkan untuk melakukan aktivitas apa pun setelah menyelesaikan ibadah ritual. Orang-orang yang mengisi waktunya dengan bermain-main tanpa tujuan dan menumpuk harta hanya untuk berbangga-bangga dan bermegah-megah dikecam. Manusia dituntut bekerja dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati.
Kisah seorang yang meninggal dengan koper kosong tersebut mengingatkan kita agar mengisi kehidupan ini tanpa menggerutu, tanpa mengeluh, dan tidak pesimis. Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini.
Hidup adalah waktu. Hargai waktu yang ada tersisa. Jalanilah hidup dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Berhentilah bersungut-sungut dan mengomel.
Nikmatilah setiap saat-saat yang dilalui bersama pasangan dan anak-anakmu, dan bahagiakan mereka selagi kamu masih punya waktu. Jangan simpan kebencian, dendam, kepahitan…
Tetaplah menjadi baik sampai akhir hidup.
Mari isi kehidupan kita setiap hari penuh dengan penuh cintakasih, optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya. Maka, usir perasaan negatif.
Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa! Semoga! (ags)

About Isromi LASPELA

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: