Home / EKO-BISNIS / Revolusi Mindset Pariwisata

Revolusi Mindset Pariwisata

Hari-hari ini warga Bangka Belitung beli tempe pun tidak sanggup lagi. Itulah parahnya negeri kite!” Hidayat Arsani.

PELAMBATAN EKONOMI Kepulauan Bangka Belitung selama dua tahun terakhir ini bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Ekonomi global dan nasional jelas berpengaruh. Namun jatuhnya harga timah di level USD 16.000 bahkan USD 15.000 benar-benar memukul Bangka Belitung. Harus jujur diakui, daya beli masyarakat turun drastis. Kegiatan ekonomi pun melambat. Banyak pengusaha yang terkena imbas langsung, menghentikan usahanya.

Ada pula yang banting stir mencoba usaha baru. Bahkan, Wakil Gubernur Hidayat Arsani membahasakan dengan kalimat, “Harihari ini warga Bangka Belitung beli tempe pun tidak sanggup lagi.

Itulah parahnya negeri kite!” Di sisi lain, terjurnal fenomena baru terjadinya penolakan terhadap beberapa penambangan seperti Kapal Isap Produksi (KIP). Demo pun merebak hingga Gubernur Rustam Effendi membuat eksekusi menghentikan (sementara) KIP.

Masyarakat Negeri Laskar Pelangi merupakan masyarakat berspiritualitas tinggi yang mampu memetik hikmah yang tersembunyi dari “bencana ekonomi”nya. Mereka
tidak diam.

Masyarakat menyimak dengan sangat baik dan seksama, arif serta bijak apa yang dilakukan para pemimpinnya dan wakil aspiratifnya. Sementara beberapa kelompok kalangan elit intelektual mulai bergerak membuat berbagai kajian hikmah alternatif dari keterpurukan ini.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung pun menyerukan, “Kini saatnya kita serius beralih ke ekonomi alternatif selain timah. Jangan lagi kita bertumpu pada timah yang akan habis. Pariwisata menjadi alternatif paling cepat untuk menopang ekonomi Babel.

”Ketua Umum KADIN(Kamar Dagang dan Industri) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ir Thomas Jusman MM pun bersama pengurus KADIN yang memulai kebangkitannya pada bulan Oktober 2015 langsung melakukan gebrakan.

“Seraya melakukan good mining practice, KADIN sebagai organisasi yang menaungi para pengusaha mendorong penguatan lima pilar ekonomi yaitu pariwisata, ekonomi kreatif, kemaritiman, pertanian perkebunan serta perdagangan dan jasa,” tegasnya.

KADIN BABEL mengamati pariwisata menjadi sektor yang siap didorong, dibangkitkan dan dimajukan. “Perubahan mindset (cara berfikir) ke arah pariwisata sudah sangat menguat.

Maka, siapapun yang memimpin daerah, pengusaha maupun tokoh masyarakat; baik sekarang dan yang akan datang pasti akan didukung ketika melakukan gerakan pariwisata dan memobilisasi pariwisata,” kata Thomas Jusman. Pengamat Kebijakan Publik, Safari ANS berharap perancang infrastruktur Babel memiliki selera tinggi dalam melihat Babel ke depan.

“Jalan-jalan hendaknya sepadan, jangan terlalu sempir. Tanah kan masih banyak. Demikian pula arsitekturnya hendaknya berselera seni tinggi pada finishing bangunan wisata maupun hotel-hotel,” kata Safari ANS yang juga wartawan senior itu.

Ia mencontohkan patung- patung yang dibangun, hendaknya dibuat dengan seni yang tinggi dan dapat mempresentasikan sejuta kisah yang menarik. “Kita malu kalau patung-patung kita berselera rendah.

Lihat di Bali yang patung-patungnya bernilai seni taraf internasional. Kita bangga dibuatnya,” ungkap Safari ANS. Safari ANS berharap, pariwisata Kepulauan Bangka Belitung ke depan benar-benar digarap dengan sentuhan hati, seni dan masterplan yang ikonik.

Memang. Pariwisata adalah sebuah keniscayaan. Pariwisata akan menjadi bola salju yang akan menggelinding dan terus membesar. Pariwisata akan menjadi primadona ekonomi Kepulauan Bangka Belitung pada saatnya. Semoga!

About Isromi LASPELA

Chinese (Simplified)EnglishIndonesianSpanish
%d bloggers like this: